Thursday, September 3, 2009

Where Rainbows End



Caranya bertutur berbeda dari novel kebanyakan. Pembaca seolah-olah bisa ngintip history chatting, surat, dan kartu ucapan si tokoh utama, Rosie Dunne dengan orang-orang sekitarnya. Ya sahabat, orang tua, saudara.

Alurnya agak lambat, tapi wajar kok, soalnya pengarang memaparkan kisah hidupnya dari anak-anak sampai berkembang dewasa. Kadang-kadang gregetan juga sama Rosie dan Alex. Pembaca bakal tau, mereka saling cinta, saling sayang, tapi gak mau jujur satu sama lain. Duh.

Pengarang novel ini Cecelia Ahern, pengarang novel P.S I Love U yang udah dulu booming, dan dibikin filmnya. Cecelia emang ahlinya romantis lah, jalinan kisah hidup tokoh-tokohnya bikin bercermin sama diri sendiri deh, coz tingkah lakunya gak dibuat-buat ala sinetron. Hehe. Mungkin gak ya dibikin filmnya, kan unik tu. Gak ada yang gak mungkin, kan emang lagi jamannya angkat novel jadi film kayak yang sudah-sudah.

Buat yang suka romance, highly recommended deh.

Tuesday, September 1, 2009

Cup Café

Aku jadi temen dulu di FB baru datangin tempatnya. Hehe. Tak kenal maka tak sayang kan. Letaknya gampang dicari kok. Daerah Gayam. Tempatnya imut, tapi gampang dikenali dengan ikon cangkirnya.

Baru sekali ke sana langsung coba: chicken cubes with mayonnaise (irisan ayam bentuk dadu yang di celup sama moyones), strawberry pancake, dan kopi susu. Ayamnya enak, pancake porsinya sedang, tapi adonan telurnya kerasa banget. Jadi cepet kenyang. Warning: ini porsinya relatif kecil loh ya…

Monday, August 31, 2009

Ambarawa: Sisi Lain


Apa yang kamu pikirkan pertama kali selintas tentang Ambarawa? Museum kereta? Yup, kalau itu udah pasti. Pokoknya kalau ke sana, jangan sampai ketinggalan buat kunjungi museum kereta.


Ternyata gak cuma kereta dan palagan Ambarawa disana. Patut diingat: udaranya dingin dan anginnya kenceng pas malem. Brrr! Sialnya pas aku datang ke sana, selimutku yang setia menemaniku di tiap malam itu gak aku bawa.. Huhu, nasib. Kata orang asli sana itu pengaruh letak Ambarawa yang deket gunung. Hmm, pantesan.


Apa lagi yang bisa dikunjungi? Kalau mau wisata religi datang aja ke Gua Maria Kerep. Selain berdoa, kamu bisa dapetin view yang bagus buat foto-foto. Hehe. Ssst, tempat ini juga bagus buat wedding party loh. Berbagai sovenis bisa kamu beli buat oleh-oleh: rosario, salib… Bikin bingung mau pilih yang mana, abis semuanya bagus sih!


Selama di Ambarawa, aku sempat nyicipan soto. Letaknya dekat gedung pemuda. Komentar: encer. Begitu pula sama teh angetnya: bening. Ada nasi rames di daerah terminal. Murah kok. Ada angkringan yang bersahabat sama kondisi kantong kita (namanya juga angkringan, di Jogja juga gitu kok, hehe). Ada mireng, mie rebus, dan nasi goreng. Ada sate yang cuma buka pas malem aja. Highly recommended. Enak sih. Letak makanan-makanan ini gak jauh-jauh sama hotel Tentrem. Ada rumah makan padang juga sih, tapi letaknya deket pasar, dan harus naek angkot.


Soal hotel-hotel seputar Ambarawa, ehem, jangan membayangkan kelas hotel bintang tiga yah, pokoknya have fun ajalah. Huahaha. Kalau belanja di Swalayan Laris aja. Pokoknya komplit! Kalau di Jogja, Laris itu justru tempat warung makan yang terkenal sama pudingnya. Hihi. Gak bawa motor? Jangan kuatir deh. Transportasi di sana gampang kok. Kalo pake angkot Rp. 2000,- sekali jalan. Kalau sekalian mau ke Semarang, Rp. 5000, - sekali jalan.


Pokoknya silahkan coba! Asiiik.

Sunday, August 30, 2009

I’d Tell You I Love You, But Then I ‘d Have to Kill You: TeenLit


Hh, judulnya emang gak ear catching, hehe. Ceritanya gak rumit kok. Pembahasan gak akan jauh-jauh dari Akademi Gallager, sekolah putri khusus untuk mendidik mata-mata, spesialnya tentang percintaan Cammie Morgan, si tokoh utama.


Sekolah tambah seru dengan kedatangan si cewek anak senator yang sombong banget. Gawatnya, cewek satu itu tau waktu Cam naksir seorang cowok. Berhubung Cammie gak terlalu ahli dalam urusan cinta, dia harus pinter-pinter gunain kemampuan mata-mata untuk menyelidiki cowok itu dibantu sahabat-sahabatnya: Liz dan Bex.


Ceritanya remaja banget deh. Pas juga buat adek-adek kita yang sekolah di SMP ato SMA. Hehe.

Friday, April 24, 2009

Knowing: Entah Science Fiction atau Fantasi

Aku bukan penggemar Nicholas Cage. Nonton film ini pun karma terpikat resensinya. Ceritanya si Nicho ini (wualah, sok kenal sok dekat), adalah single parent beranak satu, nama anaknya Caleb. Istrinya meninggal karna kecelakaan.

Suatu saat si Caleb menghadiri upacara kelulusan di sekolahnya. Masing-masing murid akan mendapat pesan yang tersimpan dalan kapsul waktu. Kapsul itu dibuka di depan semua murid saat itu. Caleb terima kertas yang berisi deretan angka.

Gak nyangka, Caleb justru bawa kertas tadi ke rumah. Si bapak walau awalnya marah, jadi malah penasaran dan berusaha tafsirkan deretan angka tadi. Entah saking pinternya atau takdir, dia bisa memecahkan angka tersebut.

Hasilnya hebat banget, angka itu bisa prediksikan kejadian masa depan: waktu terjadi, titik koordinat tempat dan orang yang terlibat di dalamnya. Cuma semua kejadian yang dimaksud adalah kecelakaan.

Begitulah, lama-lama Caleb dan ayahnya terus terhubung dengan kejadian seputar kertas itu. Si Nicho, bisa membuktikan sendiri bahwa prediksi angka itu tepat.

Adegan kecelakaan di film ini emang kuakui kereeeeeeeen. Wow pokoknya. Cuma ending film cerita justru bikin kesal. Awalnya emang film yang menampilkan ketegangan dan misteri, kok penyelesaiannya malah kayak film fantasi?

Intinya dunia terancam musnah akibat letupan gas matahari. Bagus kan? Aku jadi bengong waktu ada ‘UFO’ yang jadi penyelamat orang-orang terpilih. Hm, mana ada kejadian alam yang bisa di cegah? Gak konsisten deh ceritanya.

Ini sekedar opini sih. Mungkin si pembuat cerita juga pingin menampilkan akhir yang ada happy ending-nya gitu. Menurut pengamatanku malah wagu (alias aneh/ gak cucok). Silahkan nonton sendiri deh… dan bikin ending sendiri. Hehehe.

Under The Tree

Aku sempat excited waktu dengar Under The Tree di putar di 21 Yogya. Jarang, ada film gak berbau komersil yang tembus kesana. Makanya waktu jam datang aku masih dapet tiket, agak gak heran, gak banyak orang tertarik dengan film yang tampak luar aja udah ‘berat’. Aku dah bisa prediksi berdasar beberapa resensi di media. Keinginan nonton tamabh kuat. Soalnya film ini berjaya mendapat beberapa penghargaan.


Film ini bercerita tentang tiga wanita, (Marcela Zalianti) yang berkonflik dengan ibunya, (Nadia Saphira) anak pejabat kaya raya, dan wanita (lupa nama artisnya) yang dihadapkan dengan kelainan pada janinnya. Semuanya bersetting di Bali. Jadi sepanjang durasi film, akan disuguhkan banyak prosesi adapt Bali, kesehariannya, tingkah lakunya, bahasa Bali pun banyak diselipkan dalam percakapan, terutama oleh para penduduk Bali. Para figuran film termasuk para penari memang orang Bali tulen, penarinya saja legendaris. Begitulah info yang kudapat. Dilihat orang awam sih, acting Ayu Laksmi memang mengagumkan, gak salah kalau dia dapat penghargaan pemeran wanita terbaik di FFI.


Inti cerita yang bisa kutangkap sih seputar itu, masalahnya ada banyak lubang kosong (walah) buat memahami cerita secara keseluruhan. Banyak pertanyaan yang harus kutanya ke Mas garin, hoho.

Sejak film mulai diputar aku bengong, studio film garapan Garin Nugroho ini sepi banget! Dengan perhitungan kilat (belum tentu akurat, hehe) penonton yang hadir gak lebih dari 20 orang. Selama pemutaran beberapa ladies keluar masuk studio, gol-nya mereka hengkang beneran dari studio. Aksi ini diikuti serombongan muda-mudi lain. Gerah mungkin, coz filmya mikir. Haha. berasa nonton privat edition deh.


Atau memang ada penonton yang bisa memberikan pencerahan soal film ini?



Smart Haier

Wah ini lah solusi hemat buat orang pingin ngenet. Dengan budget Rp. 189.500,- udah dapet modem berbasis kecepatan 3G. Selama ini aku pake ngenet secara cuma-cuma, asal hapenya ada pulsanya, hehe.


Testimony singkatnya: untuk penggunaan di rumahku yang ada di Pilahan, Gedong Kuning, aksesnya susah banget. Kalo mau usaha ya harus ngenet di pagi buta. Kalo pas sore atau maleman dikit bisa lancar tuh beruntung banget, hiks. Untuk pemakaian kawasan Tambak Bayan, aksesnya jauh lebih cepet dari rumahku. Gak terlalu menderita deh cari sinyal. Gitu juga waktu tak coba di kantor, kawasan Timoho, is better.


Kalau dibandingkan sama Telkom Flash ya kalah cepet. Tapi waktu si Smart ini kuboyong ke Jakarta dan kupake disana, sangat memuaskan kok. Kecepatannya mungkin jadi 3x di banding di Jogja. Cowokku sih bilang hal yang sama tentang penggunaan Smart ini. “Mungkin orang di Jakarta yang berhemat cuma sedikit”, katanya berseloroh.


Nilai plus yang lain sih modemnya bisa sekalian buat teleponan, SMS-an juga. Kan bentuknya hape. Haha. Juz have fun. Men-download lagu? Belum pernah kulakukan. Gaaaaa, bikin emosi duluan si.


Tersedia dalam tiga warna ni: putih, hitam dan merah

Samsung E200


Gadget ini cocok buat orang yang pingin fitur komplit di hapenya, tapi isi kantong terbatas. Kamera 1,3 MP, music player, voice recorder, image editor, FM editor, Bluetooth, java world, browser (WAP), USB plug ini, plus dukungan design tipis yang gaya. Warna yang kutahu hitam sama biru telor bebek. Sepaketnya udah termasuk kabel data (USB).


Awalnya gak langsung kepikiran mau beli HP ini lo. aku malah naksir HP sliding Samsung yang harganya gak beda jauh. Ternyata gak megecewakan. Masuk kategori best buy deh. Hape ini dibeli Desember 2008 seharga Rp. 875.000,- .


Herannya sampai sekarang, HP ini gak bisa terima kiriman gambar via bluetooth dari HP merek lain, yang kucoba sih Nokia dan Sony Erricson. Gambarnya gak bisa dibuka. Kalau mau file bermasalah tadi dihapus, harus via HP. Soalnya file transferan itu gak bisa dipindah ke komputer. Apa ukurannya terlalu besar ya? Kalau pun bisa terima gambar pun cuma dari Motorola, bisa dibuka sih, tapi tetep aja gak bisa ditransfer! Pusing.


Hal yang sama juga berlaku buat lagu. Bisa sih di dengerin, tapi gak bisa ditranfer juga ke computer atau laptop. Kalau bosen yang di hapus aja langsung dari hapenya.


Kadang pesan masuknya juga agakn eror. Pesan-pesan lama bisa dideteksi sebagai pengirim sms yang baru masuk. Ya gak parah sih, begitu keluar dari inbox eror nya juga langsung hilang kok.


Ada yang bisa Bantu buat solusinya?

Friday, April 10, 2009

Hari Gini Golput?

Di bagian koran Kompas Jogja, pernah ada artikel liputan yang menceritakan beberapa kekecewaan mahasiswa suatu perguruan tinggi negeri (guess who, hehe). Mereka membuat posko di kawasan kampus yang intinya merupakan pos yang menerima pengaduan masyarakat tentang Pemilu 2009. Apa mereka juga menggalang massa untuk golput? Hm, gak tahu juga. Aku sempat ingat argumen mereka waktu itu. “Kami merasa gak ada calon pemimpin yang qualified untuk memimpin Indonesia kelak. Hasil pemilu kali ini juga gak bakal membawa perubahan yang berarti, jadi buat apa ikut pemilu?”, komentar salah satu dari mereka.

Di hari berikutnya, kutemukan artikel yang berbeda. Gabungan beberapa mahasiwa (negeri atau swasta ya???? Hihi..) melakukan aksi bersama. Mereka buat karya seni yang mengajak semua orang untuk menghindari golput. “Hari gini golput rugi. Uang yang dipakai untuk membiayai pemilu kan dari uang rakyat juga. Ini pesta demokrasi yang besar. Demokrasi harus kita dukung”, ajak mereka.

Dari perbandingan kedua aksi di atas aku akan mendukung aksi kedua. Golput adalah hak tiap waga negara, tapi tetep aja it’s not ok. Skeptis boleh aja, tapi jangan sampai apatis. Apalagi mahasiswa jangan sampai gak mau berbuat sesuatu buat negaranya. Bukannya mau bersikap sok atau gimana. Tapi kalo golput gak deh. Mau golput sampai kapan? Kalau terus ditunggu apa akan muncul pemimpin serba sempurna?

Perubahan ada kalo ada kemauan untuk berbuat sesuatu, nyatanya tahun 1998, mahasiswa bisa bertindak dan menggulingkan tirani jaman itu. See? Golput it/s not cool. Tapi dalam kasus ini. Adalah golput yang dasarnya berasal dari niat diri lo. Bukan golput karena keruwetan DPT. Semoga pilihan bisa menentukan ke arah yang baik.

Monday, March 30, 2009

Koran KR: kertasnya baru!


Sebenernya aku beli koran KR Cuma 1x seminggu aja: hari Sabtu. Minggu kemarin aku beli kertasnya udah gak kayak biasa lagi. Warnanya lebih putih, tintanya jadi lebih bersahabat, gak ngotorin tangan pas baca. Wah kirain Cuma kebetulan, ternyata gak. Minggu ini aku beli jenis kertas korannyanya memang ganti. Bagus deh, jadi nyaman bacanya. Tanganku gak hitem-hitem lagi.

Earth Hour

Hm, katanya hari Sabtu, 28 Maret 2009 jam 08.30 – 09.30, kita diminta matiin lampu dalam waktu tersebut. Berhubung aku gak dirumah jam itu, aku gak sempat ikutan,huhu. Tapi di jalan pun terbukti banyak yang masih terang benderang kok. Padahal pilihan matikan lampu di jam tersebut, bisa kasih efek tetek bengek yang intinya mendukung bumi hijau. Wah. Jadi kalo sampe gak matiin lampu bakal mendukung global warming. Oh no…

Klub CC: Pede Memasuki Dunia Kerja

Majalah Cita Cinta kerja sama dengan Dove, hari Sabtu, 28 Maret 2009 mengadakan Talkshow di Caesar Café & Resto, Amplaz. Acara yang rencana mulai jam 15.00, molor sampe jam 16.00. peserta yang datang ternyata banyak juga dilihat dari jumlah tiket, totalnya bisa mencapai 200-an lebih.

Dengan dress code white with touch of gold, talkshow jadi lautan warna putih. Ada sih beberapa peserta yang gak mematuhi dress code. Talkshow sesi I ini diisi oleh Eliza dari Total Career. Secara garis besar dia kasih tau tips-tips promosikan diri lewat CV dan wawancara. Sesi II diisi Aswan, hair stylist yang berdasarkan CV-nya lumayan bikin ‘wow’, hahaha.

Acara lain gak jauh-jauh dari Tanya jawab, kuis, doorprize, games, dan best dress code yang merebutkan banyak hadiah, suit-suit, payahnya, aku gak berperan sama skali, hehe. Lumayan lo, ada yg dapet hadiah utama kamera digital. Kan lumayan, kalo misalnya dah punya, ya dijual lagi, kan beres. Hehe.

Dari kasak kusuk kanan kiri sih ngerasa acara ini agak boring. Pembicara sesi I kurang kasih informasi baru, sedang pembicara sesi II kurang komunikatif, tapi ya asik2 aja. Pasti dapat ilmu kok. Asiknya lagi bisa liat Andien nyanyi. Suaranya hm, bening bener… gak rugi lah, dia komunikatif kok sama penonton.

Tiket resmi sih 60.000, tapi berkat milis (thanks god), 45.000 dah bisa buat berdua, hore.

Asiknya masing-masing peserta so pasti dapat goodie bag yang isinya paket perawatan hair fall therapy system dari Dove (shampoo, conditioner, plus serum) dan sandal jepit dari Ouval Research. Yang menang lomba-lomba, tambah banyak tu hadiahnya. Huhu. Dapetnya goodie bag pake perjuangan tu, antri-antri sgala. Gak papalah, pokok e seneng-seneng. Jam 18.00 dah kelar kok.

Tuesday, December 16, 2008

Pesona Lawang Sewu dan Kota Lama


Hore, aku bisa datang juga ke Lawang Sewu ama Kota Lama. Udah lama ngebet ke sana, tapi ada aja alangannya. Hiks, hiks. Aneh dong, ke Semarang, tapi gak datang ke dua tempat itu, hihi.

Rute dimulai dari Lawang Sewu. Buat buktikan sendiri bangunan yang kabarnya pernah muncul penampakan di TV. Hiy. Untung aja datang waktu hari masih terang, kalau gelap mana tahan! Siang aja keadaannya udah horor, apalagi malam, hua.

Waktu itu aku jalan cuma berdua aja, tanpa guide. Kita juga putar-putar ga berani terlalu jauh, yang penting sotret menyotret. Solusi lainnya, kita buntuti pengujung lain, biar gak terlalu sepi, haha.

Mblusuk-mblusuk aja gak berani apalagi masuk bawah tanah yang konon pernah jadi penjara dan penyiksaan. Bawah tanahnya juga tergenang air dan gelap banget. Wa, tidak!

Bentuk bangunannya juga mendukung wisata horor, banyak lumut, minim cahaya, suram, kelihatan dari depan sih ramai pengunjung, serta masuk ke dalam, luas juga, ujung-ujungnya sepi.

Kabarnya, Lawang Sewu mau dibuat hotel. Aku sih mendukung, dari pada bangunannya terlantar dan gak ada perawatan sama sekali. Malah menggenaskan. Senasib kayak Taman Sari-nya Jogja. Hm, jangan salah, serem-serem gitu, ada yang pre-wedding di Lawang Sewu. Sebelum hari jadi gelap, wisata langsung pidah ke Kota Lama.

Asik, kawasan Kota Lama mah unik, jadi semangat foto-foto. Bentuk bangunannya memang amat jadul, beberapa tempat juga kelihatan sepi. Asal tahu tempat rawan dan sembunyiin kamera dari pandangan, it’s ok. Tempat semacam itu biasanya buat kumpu orang sabung ayam. Mereka curiga orang bawa kamera itu pasti wartawan yang mau liput kelompok mereka.

But, semangat sempat menciut waktu ketemu sama rob yang menggenang di beberapa ruas jalan Kota Lama. Sisa-sisa genangan bikin bau gak sedap, becek, dan ada bangkai hewan juga, jorok lah. jadi jangan heran kalau tiba-tiba lihat tikus bersliweran di sudut-sudut jalan. Yaiks.

Kalau mau tempat agak enak buat duduk, ya di sekitar gereja Blenduk. Waktu itu gereja dalam masa pemugaran, jadi belum bisa lihat bagian dalam.

Pintar-pintar cari jalan deh, buat menghindari rob. Kalau memang perlu, bawa makanan atau cemilan dari rumah, coz dalam radius dekat gak ada swalayan. Tempat ini pasaran banget buat pre wedding. ‘Sangat’ Semarang.

Saturday, December 13, 2008

Taman Sari, Riwayatmu Kini

Menjelang hari raya kurban kemarin, aku sempatin datang ke Taman Sari. Niat awalnya sih mau foto-foto berempat, yah sayangnya gak bisa kesampaian. Akhirnya aku, Teta, adekku, plus pacarnya, berangkat.

Berhubung hari libur, suasana Taman Sari ramai juga. Banyak juga wisatawan luar negeri lo. Bahkan sempat kita lihat, ada beberapa pasangan yang melakukan foto pre-wedding. Taman sari memang jadi tempat yang unik buat sotret menyotret, karena bangunannya yang khas.


Sayangnya, Taman sari berkesan tak terawat, pemeliharaan asal-asalan. Masa disela-sela jendela Taman Sari ada penduduk yang jemur kerupuk dan sayur mayur? Belum lagi jemuran warga yang bergelantungan di kawasan Taman, hmm, apa kata para wisatawan ya.


Pengunjung juga ada yang edan. Kalau bawa camilan, buangnya sembarangan, yaiks. Kok ya nggak ada petugas yang patroli kebersihan tiap saat ya? Pengunjungnya bandel, pengelola ya cuek. Parah deh.

Kondisi kompleks Taman Sari yang menyatu dengan perkampungan, memberikan resiko demikian. Bukan malah terkesan eksklusif. Kalau pemanfaatan warga bisa memberikan kontribusi buat Taman Sari ya, malah lebih bagus lagi. Misalnya ada yang membuka kursus membatik, atau buka warung, kan malah membantu pemasukan warga sendiri. Batik juga menambah nilai wisata.


Kalau penduduk sekitar cuma melakukan pungutan liar ke pengunjung, atau menambah kesan jorok (seperti menjemur baju di bangunan Taman sari), malah bikin ilfil. Nilai sejarahnya malah jauh berkurang. Jangan-jangan suatu saat Taman Sari hanya akan jadi warisan yang dilupakan orang.

Bale Kambang, Wisata Gratis

Waktu dapat kesempatan libur beberapa hari, aku niatin buat naik kereta api. Ini bermula dari aku yang bersikeras mau nyoba kereta api Banyu Biru, jurusan Semarang – Sragen. Padahal kan, gampang aja, tinggal turun di Solo Balapan buat pulang ke Jogja, tapi tetep aja gak boleh.


Berhubung gak menginap, cari rute-rute yang deket aja, so, pilihan jatuh ke Solo. Jauh-jauh ke Solo, kan gak asik kalau gak jalan-jalan. berdasar refrensi dari koran yang kebetulan dibeli saat perjalanan, akhirnya diputuskan ke Bale Kambang aja. Secara mall-malll di Solo udah beberapa kali dikunjungi, makanya agak malas ke sana. Bale Kambang gak terlalu jauh dari stasiun. Kalau pake becak, kira-kira ‘makan’ waktu 15 menit.


Bale Kambang letaknya dekat stadion Manahan, jalan Jenderal Ahmad Yani. Bentuknya taman wisata di tengah kota. Bukanya jam 07.00-18.00, setiap hati. Masuknya gratis, tis. Suasana di dalam juga gak membosankan.


Dalam Bale Kambang ada beberapa tanaman langka, danau buatan dengan balai yang mengapung di tepinya, jadi seolah-olah mengambang, ada teaternya, bahkan ada dua rusa yang dibiarkan berkeliaran. Kalau mau kasih makan merpati di deket air mancur juga bisa. Asiknya lagi, tersedia banyak bangku di penjuru taman yang bisa buat leyeh-leyeh. Beberapa pasangan malah asik pacaran mesra lo, haha.


Taman ini dibangun seorang bangsawan sebagai wujud kasih sayang ke anak-anak perempuannya. So sweet kan? Patung kedua putri itu ada di tengah danau dan air mancur. Waktu aku ke sana juga masih ada pembangunan dalam taman, mungkin penambahan fasilitas.


Sayangnya, toilet yang berfungsi letaknya terpencil dan menyeramkan. Mungkin yang kebelet, malah gak jadi. Ada toilet-toilet baru, tapi belum berfungsi.


Menyenangkan kalau ada taman di kota, bisa jadi penyaring polusi kota, apalagi yang gratis buat pengunjung, seperti Bale Kambang.

Alokiteswara, Vihara Memukau

Setiap mau ke kantor Suara Merdeka, pasti melewati bangunan vihara megah yang tampak menyolok. Wah, akhirnya aku bisa kunjungi juga. Selain sebagai tempah ibadah, ternyata Vihara Alokiteswara, Watu Gong, Budhagaya, juga biasa dikunjungi sebagai tempat wisata,

Di sebut Watu Gong, karena di sana memang ada batu yang bentuknya menyerupai gong. Masih ada sampai sekarang. Suasananya nyaman, tenang, baunya wangi, hm, khas tempat ibadah. Ada beberapa souvenir yang dijual pada pengunjung. Souvenir ini gak ada yang jaga lo, jadi disediakan tempat uang untuk orang yang tertarik membeli souvenir. Gak hanya souvenir, minuman ringan yang ditaruh di pendingin juga mendapat perlakuan yang sama. Hm, kejujuran di uji nih.

Pengunjung boleh bebas berfoto. Termasuk di depan patung Kwan Im tiga dimensi yang luar biasa besar, tapi pengunjung gak boleh duduk, atau naik berdiri ke tempat patung-patung tersebut. Desaign-nya mengaggumkan, warna merah mendominasi di vihara ini. selain bangunan Kwan im yang tinggi menjulang, ada gedung besar yang pernah dipakai buat upacara pernikahan. Di tempat yang luas itu, juga ada patung Budha dengan pose tidur menyamping, tangan di sangga di kepala (look familiar?).

Wah beruntungnya bisa mengambil banyak gambar di tempat ini. gak semua vihara memperbolehkan sembarang pengunjung datang. Apalagi foto-foto.

Friday, December 12, 2008

Asyiknya Ikut Liputan Fotografer Freelance

Selama magang, kadang-kadang aku ikutan liputan juga. Apalagi kalau di kantor memang gak ada kerjaan lagi. Namanya Juvee, anak magang seumur hidup di SM CyberNews. Ah, becanda aja. Dia dah sering aku sebut, karena berjasa jadi guide jalan-jalan selama aku di Semarang.


Kegiatannya sehari-hari, cari berita foto yang akan di tampilkan di halaman utama SM online. Keren kan. Beberapa kali dia berbaik hati mengajak aku buat ikutin kesibukannya. Di tiap momen itu aku juga gak lupa buat ikutan ambil foto-foto demi koleksi pribadi. Hehe.


Aku pernah di ajak ke malam keakraban Mas dan Mbak Duta Wisata semarang 2008. saat itu cuma press release aja, tapi aku sempat bertemu dengan beberapa orang yang kompeten di bidangnya, termasuk tahu dengan Mas Duta Wisata 2007, ehem.


Kadang-kadang ada momen yang terjadi tanpa direncana. Juvee tau info peristiwa penting juga secara mendadak, dan itu sering terjadi lo. jadi dijalan kebut-kebutan ya udah hal biasa.


Aku ikut waktu ada penggrebekan Satpol PP pada pedagang liar di daerah Pedurungan. Wah, para pencari berita emang gak segan-segan kalau berburu. Sekarang aku bisa saksikan sendiri. Kayaknya para petugas juga udah biasa tuh lihat wartawan nyotret-nyotret di TKP. Malah aku juga ditanya, “Mbak gak ikut masuk TV tuh?”. Nah!


Juvee bilang yang penting cepat-cepat dapat foto dulu. Soalnya kejadian kan gak mungkin diulang lagi. Masalah informasi selengkapnya, bisa ditanyakan kemudian, atau kalau punya relasi, Tanya aja ke temen-temen yang lebih tau. Hmm, dapet ilmu colongan lagi nih. Asik deh.


Paling seneng waktu ikut liputan peringatan Hari AIDS Sedunia, tanggal 1 Desember kemarin. Seharian kita putar-putar cari aksi-aksi seputar peringatan tersebut. Ah, ternyata gak sia-sia. Hubungan yang terjalin di antara sesama wartawan itu penting banget lo, walaupun mereka gak satu media. Kadang butuh perjuangan juga buat nunggu atau ngejar aksi yang sedang berlangsung. Aku sih ikut-ikuta aja, asik bisa jalan-jalan.


Selama ‘ngekor’ itu aku juga ambil banyak keuntungan yang gak sedikit. Selain bisa turun dan merasakan sendiri cari berita di lapangan, aku juga dikenalkan ke beberapa teman wartawan. Baiknya lagi, kadang di antara mereka gak pelit buat sharing dan ngasih tau pengalaman mereka ke kita-kita yang masih ‘ijo’ ini. Pengalaman yang menyenangkan.


Hmm, thanks Juvee..

Kuliner Yogyakarta: Soto Mlati




Buat ukuran soto, harganya mahal. Porsinya irit lagi. Seperti warung soto lainnya, di sini juga disediakan banyak lauk pauk pelengkap soto, kayak; telur puyuh, ayam goreng, perkedel, trus...hm, apalagi ya? Telur puyuh satu tusuk isi empat dihargai Rp.3000,-. Kerasa nohoknya kan? Buat aku pribadi sotonya si lumayan enak, tapi belum ‘mak nyus’.

Bili pesan gado-gado, untuk ukuran aku yang cewek aja, udah termasuk kecil, apalagi di mata para cowok.
“Enak?”, tanyaku.
“Yah, lumayan”, jawabnya.

Soto ayam Rp.7000.-, Gado-gado istimewa Rp.8500.- (Hm, apanya yang istimewa ya?). Es jeruk dihitung Rp.3500,-, hiks. Total kita habisin Rp.24.000,-

Letak warung ini sekitar Jl. Magelang, Mlati Sleman. Wujudnya sih bukan warung sederhana, tempatnya bersih teratur, menghadap jalan, tapi sisi belakang ada kebun buat ‘nyegarin mata’. Mas yang ngelayanin juga cepet tanggap. Waktu itu aku kebetulan mampir, keburu laper berat, hehe. Buat yang pingin makan murah tapi pingin porsi ekstra large, tunda dulu ya ke sininya.

Thursday, December 11, 2008

Kuliner Jogja: Bie, masakan serba babi




Wah ini sih udah famous di kalangan temen-temen pecinta babi. Masakannya beragam, enak lagi. Pas kantung mahasiwa. Tempatnya di daerah Nologaten. Yah gak jauh-jauh amat dari pasar Nologatennya.

Ada babi panggang, sate babi, babi bumbu rujak juga ada. Favoritku ya nasi goreng babi. Dengan porsi memuaskan buat cewek, harganya juga ramah, Rp.8500,-an aja. Ada acar, emping, plus tambahan sayur. Yummy.

Suasananya enak. Apalagi di lantai dua. Walau tangganya aga horor, begitu sampai di atas, nyaman deh. Apalagi kalau sepi. Hihi. Harga menu satu ke yang laen juga gak terlalu jauh kok. Puas pokoknya.

Wednesday, December 10, 2008

Tentang Bandungan



Kemarin ini (30/11) memang di- planning buat jalan-jalan sama Mas Moko dan Mbak Endah ke Bandungan. Berangkatnya udah agak sore, sekitar jam 14.30. Hasrat jalan-jalanku kesampaian lagi, oh, asyiknya.

Aku dah deg-deg-an, takutnya acara jalan bakalan gagal lagi, hiks. Soalnya aku dah panik, rencana awal yang mau ke kampung Cina terpaksa ditunda, huhu. Padahal aku dah membayangkan pose-pose foto sekaligus dress code-nya, opo to yo, kok aku kayaknya heboh banget. Haha. Meski berubah , aku tetep excited. Lagi pula ini kan perjalanan ke tempat yang baru. Kata sepupu, Bandungan itu daerah yang dingin. Kabar baiknya ada sate kelinci yang bakal bisa dicicipin.

Ternyata, jalan ke Bandungan kelak-kelok, kanan kiri banyak jurang, luar dalam mirip sama Kopeng-lah. Banyak sayuran fresh yang dijual di pasar. Sayang kita gak sempat mampir buat beli, karena tujuannya langsung ke Candi Songo.

Untuk sampai ke tiap-tiap titik candi, jalannya menanjak. Buat alternatif orang yang males, ada penyewaan kuda yang bisa antar sampai puncak. Hehe. Waktu kita di sana gak banyak, karena sepupuku ada acara lain. Hu uh, sedih deh.

Aku cuma bisa lihat candi ke dua aja, gak ada apa-apanya donk, kan totalnya ada sembilan candi. Kabarnya candi yang bisa ditemukan tinggal lima aja, yang empat dah gak diketahui riwayatnya. Kelihatannya mistis kan, padahal gak juga. Aku sempat dapat info, candi-candi ‘ilang’ itu mungkin udah tertimbun karena gempa. Ternyata beberapa candi udah rata sama tanah, gak mbentuk lagi, parah deh.

Aku agak sanksi juga sih, masalahnya kesan pertama lihat, peninggalan seperti candi dan penataan tenda para penjual di tempat wisata gak terlalu diperhatikan sama pemerintah. Males banget ya, seolah orang-orang di sana cuma sekedar manfaatin yang udah ada, nggak mau usaha lagi untuk meningkatkan kualitas obyek yang lebih baik. Hm, tau gak, tiket masuk per orang Rp.6000,-. Murah ya. Nah kalau turis manca, bisa sampai Rp.25.000,-. Sial, kesannya aji mumpung banget sih, grrr. Lah, apa yang bakal diandalin buat daya tarik suatu saat nanti, kalau beberapa tahun ke depan semua candi udah lenyap?

Promosinya, di puncak pendakian bakalan ada air panas yang mengandung belerang. Sayang banget gak sampai sana, buat buktikan sebagus apa tempat itu. Kalau ada waktu gak usah naik kuda deh, jalan aja, walau capek pastinya. Kan sekalian foto-foto. Hehe.

Akhirnya di sana kita makan sate kelinci, uenak tante! Ya udahlah, walaupun gak lama di sana, cukup terobati makan sate enak, siplah! Hujan turun kecil-kecil, beruntunglah gak jadi deras, rusak donk acara jalannya. Kabutnya mulai tebal, udaranya juga tambah dingin, kata si mbak penjual sate, biasanya lebih dingin dari sekarang, brrr. Gak terasa saatnya harus pulang. Semoga bisa datang lagi dan aku bisa daki sampai akhir. Suatu saat aku datang lagi, aku harap tempat itu udah dikelola jadi lebih cantik.